
Guru Bimbingan Konseling di SMANSA, Pak Said, Bu Rumiati, dan Bu Euis, sering memberikan nasihat kepada para siswa di tahun kedua. Mereka kerap mengingatkan dengan kalimat, "Ingat, masa depan kalian ditentukan di masa kini!" Sebuah nasihat yang terdengar sederhana, tetapi memiliki makna mendalam.
Namun, memberikan wejangan seperti itu kepada para siswa yang sedang larut dalam gejolak "kaula muda", atau dalam istilah "muda-mudi zaman sekarang" ala Koes Plus, sering kali sama seperti menyiramkan air ke daun talas—tidak meresap, tidak membekas.
Begitulah peran guru Bimbingan Konseling. Mereka bukan sekadar penasihat, pengawas, atau pemberi hukuman, tetapi juga penjaga peradaban masa depan para peserta didik. Mereka ingin siswa menyadari bahwa setiap pilihan yang mereka ambil akan membentuk kehidupan mereka kelak. Namun,remaja di masa itu, seperti halnya remaja di zaman mana pun, sering kali lebih mengandalkan gairah dan emosi daripada pikiran rasional.
Hanya saja, setelah saya menjalani kehidupan lebih lama dan merenungkan perjalanan hidup, saya menyimpulkan bahwa setiap manusia memang memiliki legenda hidupnya masing-masing. Hal ini semakin saya yakini setelah membaca novel The Alchemist karya Paulo Coelho pada tahun 2000-an. Novel itu mengajarkan bahwa setiap individu memiliki jalur kehidupannya sendiri yang sudah ditetapkan dalam bentuk cetak biru atau blueprint.
Jika kita menilik konsep ini, ada kemungkinan apa yang dikemukakan oleh para teolog Jabariyah, yaitu paham predestinasi, memang memiliki kebenaran. Dalam sudut pandang Jabariyah, manusia tidak memiliki kendali penuh atas hidupnya, karena Allah SWT telah menentukan kadar, ukuran, serta takdir masing-masing individu. Apakah kita sejalan dengan pandangan ini atau tidak, satu hal yang pasti: perjalanan hidup seseorang sering kali sudah dapat diprediksi dari kebiasaan dan bakatnya sejak kecil.
Siswa-siswi di SMANSA pada tahun 1990-an mungkin tidak terlalu memikirkan jalan hidup, legenda hidup, atau apa pun sebutannya. Masa muda, sebagaimana yang sering dinyanyikan oleh Bang Haji Rhoma Irama, adalah masa yang penuh api semangat. Keyakinan akan kebenaran versi sendiri begitu kuat, hingga nasihat bijak apa pun sering kali terdengar seperti dengungan nyamuk atau suara mesin yang meraung-raung memekakkan telinga. Begitulah realitasnya.
Walakin, meskipun setiap individu memiliki cetak biru kehidupan, perjalanan seseorang sering kali bisa ditebak dari kecenderungan dan kebiasaannya sejak remaja. Misalnya, siswa yang aktif dalam organisasi atau ekstrakurikuler biasanya menunjukkan minat dan keahlian yang menjadi cikal bakal karier mereka di masa depan.
Tanpa adanya cetak biru dalam diri manusia, mungkin di SMANSA tidak akan ada begitu banyak jenis ekstrakurikuler, masing-masing dengan nama, branding, serta tagline pemikatnya sendiri. Setiap orang cenderung memilih kegiatan yang sesuai dengan minat, bakat, dan nilai yang mereka pegang. Itulah sebabnya, dalam sebuah grup obrolan, kita sering menemukan anggota yang lebih sering berbincang dengan mereka yang "satu frekuensi".
Bagi orang yang tidak memahami fenomena ini, mereka mungkin akan merasa diabaikan ketika pesan mereka tidak mendapat respons, sementara orang lain tampaknya lebih diperhatikan. Padahal, ini bukan soal mengabaikan, melainkan lebih kepada pembentukan kelompok berdasarkan kesamaan minat dan cara berpikir. Itulah mengapa saya selalu mengingatkan diri sendiri agar siap menerima setiap kondisi, terutama perbedaan tipikal dan karakter manusia.
Tiba-tiba, saya teringat sebuah kisah menarik tentang Cheerleaders di SMANSA pada masa itu, yang dikenal dengan nama Wah Dance. Saya tidak ingat pasti berapa jumlah huruf "H" dalam kata "Wah" yang digunakan sebagai namanya. Namun, satu hal yang jelas, Wah Dance adalah fenomena yang cukup mencolok pada zamannya.
Saya bukan termasuk orang yang terlalu memperhatikan lenggak-lenggok para anggotanya. Bagi saya, penampilan mereka bukan sekadar soal seksi, cantik, atau mulus, sebagaimana yang mungkin menjadi perhatian sebagian siswa laki-laki kala itu.
Sejak era humanisme, di mana manusia menempatkan dirinya sebagai pusat kehidupan, pelampiasan ekspresi tubuh telah berkembang menjadi bagian dari pertunjukan seni. Di sisi lain, dalam perspektif lain, setiap individu memiliki kebebasan untuk menilai sesuatu berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Apakah seseorang melihat gerakan para cheerleader sebagai seni atau sebagai sesuatu yang memicu birahi, semua itu kembali pada cara pandang masing-masing.
Sebagai contoh, jika kita melihat seekor kuda dalam kondisi telanjang, apakah kita merasa risih? Tentu tidak, karena kita tidak mengasosiasikannya dengan nilai-nilai tertentu yang kita anut. Hal yang sama juga bisa berlaku dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bagaimana kita memandang kelompok Wah Dance.
Ketika membicarakan Wah Dance, ada baiknya kita tidak langsung menghakimi para siswi yang menjadi pentolan kelompok tari ini sebagai para perempuan yang gemar mengumbar aurat. Meski selalu ada kelompok yang berpandangan demikian, kenyataannya, Wah Dance adalah bagian dari kisah perjalanan sebuah sekolah yang hidup dalam gegap gempita akhir milenium kedua.
Ketika kelompok ini tampil di lapangan basket untuk menyemangati para pemain, sorak-sorai langsung terdengar dari para siswa. Apakah itu berarti mereka adalah lelaki mata keranjang? Belum tentu. Setiap kisah dan peristiwa memiliki kadar nilainya sendiri.
Keberadaan Wah Dance mencerminkan realitas kehidupan sosial siswa SMANSA saat itu. Di satu sisi, ada yang melihatnya sebagai bagian dari seni dan hiburan. Di sisi lain, ada pula yang menganggapnya tidak sesuai dengan norma tertentu. Namun, satu hal yang pasti, Wah Dance telah menjadi bagian dari sejarah SMANSA.
Saya tidak tahu apakah di SMANSA Kota Sukabumi saat ini masih ada kelompok tari Wah Dance. Jika masih ada, saya yakin tampilan, konsep, serta cara pandang terhadapnya pasti sudah berbeda dibandingkan era 1990-an.
Zaman terus berubah. Nilai-nilai sosial dan budaya juga mengalami pergeseran. Mungkin di era milenial, Wah Dance hadir dalam bentuk yang lebih modern dan profesional, tidak sekadar sebagai hiburan saat pertandingan basket, tetapi juga sebagai bagian dari ekspresi seni yang lebih luas.
Namun, satu hal yang tetap tidak berubah: setiap generasi memiliki warna dan kisahnya sendiri. Seperti halnya kita yang dulu menganggap diri kita paling benar dalam memandang kehidupan, generasi saat ini pun mungkin akan berpikir hal yang sama tentang dirinya. Dan pada akhirnya, kita semua akan kembali merenungkan perjalanan hidup, sebagaimana saya melakukannya saat ini.
Posting Komentar untuk "Catatan #12: Wah Dance"