Live Pukul 08.00 - 24.00 WIB.

Catatan #13: Papyrus Creatio



Alumni SMANSA tentu tahu betul apa itu Papyrus Creatio, dengan syarat mereka pernah berhenti sejenak di hadapan majalah dinding (mading) sekolah. Mading ini bukan sekadar papan informasi biasa, melainkan wadah bagi curhatan, ide, serta isi pikiran para siswa yang memiliki keberanian untuk menuliskan gagasan mereka di tempat umum.

Nama Papyrus Creatio menarik untuk dibahas. Seperti halnya penamaan ilmiah dalam nomenklatur binomial, di mana setiap spesies diberi dua nama dalam bahasa Latin, seperti Oryza sativa untuk padi atau Mangifera indica untuk mangga, mading ini pun memiliki nama yang seakan menegaskan identitas intelektualnya. Apakah pencetus nama ini pengagum Carl Linnaeus, bapak taksonomi dari Swedia itu? Atau hanya sekadar ingin terdengar keren di kalangan siswa?

Yang jelas, Papyrus Creatio bukan hanya kombinasi dua kata asing tanpa makna. Papyrus merujuk pada bahan kertas yang pertama kali digunakan oleh bangsa Mesir Kuno untuk menulis. Sementara Creatio, yang berarti kreativitas, menegaskan fungsi utama mading ini sebagai wadah ekspresi siswa. Dengan kata lain, nama ini bukan hanya simbol, tetapi juga pernyataan bahwa setiap coretan yang ditempel di sana adalah bagian dari proses penciptaan yang memiliki nilai.

Dahulu, setiap hari Senin dan Rabu, pengurus OSIS akan menempelkan edisi terbaru Papyrus Creatio di papan mading. Isinya beragam, mulai dari puisi, cerita pendek, karikatur, esai ringan, hingga kadang-kadang humor satire yang menyentil kebijakan sekolah atau fenomena sosial di sekitar mereka.

Dalam pandangan saya, keberadaan mading ini sebenarnya juga menjadi solusi kreatif terhadap fenomena vandalisme di kalangan siswa saat itu. Sudah menjadi rahasia umum bahwa beberapa siswa suka mencoret-coret dinding, meja, atau bahkan toilet sekolah. Tentu saja, sekolah tidak membuat Papyrus Creatio untuk mewadahi aksi coret-coret sembarangan. Namun, dengan menyediakan ruang yang sah dan terorganisir, mereka seolah mengajak:

"Daripada kalian menumpahkan isi pikiran di dinding kelas dengan cara ilegal, lebih baik tuangkan kreativitas kalian di sini, di tempat yang memang disediakan untuk itu!"

Secara fisik, Papyrus Creatio memang hanya berupa papan pengumuman. Namun, dari segi konten, ia jauh lebih menarik dibandingkan dengan papan pengumuman biasa yang hanya berisi jadwal, peraturan sekolah, atau informasi akademik yang seringkali diabaikan siswa. Jujur saja, bagi kebanyakan siswa termasuk diri saya, pengumuman sekolah yang paling menarik untuk dibaca adalah informasi tentang libur panjang.

Berbeda dengan papan pengumuman yang sering diabaikan, mading ini justru menjadi pusat perhatian siswa. Ada kebanggaan tersendiri bagi mereka yang karyanya berhasil dimuat. Mereka akan mengajak teman-temannya untuk membaca tulisan mereka, mencari tahu reaksi pembaca, dan terkadang malah berdiskusi atau berdebat tentang topik yang diangkat.

Saya sendiri adalah salah satu siswa yang rajin membaca Papyrus Creatio. Kebiasaan membaca sejak kecil membuat saya tertarik pada berbagai jenis tulisan, baik itu fiksi maupun nonfiksi. Apa pun yang berbentuk teks, gambar, atau simbol, pasti saya baca dan amati dengan cermat. Oleh karena itu, mading ini menjadi bagian dari rutinitas saya di sekolah.

Tak hanya menjadi pembaca, saya pun pernah menjadi salah satu kontributor dan karya saya sering dimuat di Papyrus Creatio. Momen itu adalah salah satu pencapaian kecil yang sangat membanggakan bagi saya sebagai seorang siswa. Ada rasa bangga ketika melihat tulisan saya terpampang di depan umum, dibaca oleh teman-teman, dan bahkan dibicarakan.

Bagi saya saat itu, Papyrus Creatio adalah cerminan pemikiran generasi muda pada masanya. Karya-karya yang terpampang di dalamnya sering kali menggambarkan realitas yang sedang dihadapi siswa: kesenangan, kegelisahan, harapan, hingga kritik sosial terhadap lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Beberapa tulisan yang pernah saya kirim melalui Papyrus Creatio ini bahkan bernuansa satire dan kritik tajam terhadap kebijakan sekolah. Misalnya, ada tulisan saya yang mempertanyakan kenapa biaya PKL untuk setiap siswa dipukul rata, bukankah latar belakang siswa itu beragam, terutama penghasilan orangtuanya?

Atau ada juga tulisan saya yang mempertanyakan, kenapa ketika seorang siswa belum membayar SPP sampai tanggal 10 selalu dipanggil, bukankah seharusnya sekolah memanggil orangtua atau wali siswa tersebut? Karena dengan memanggil siswa, sama artinya dengan mempermalukannya di depan teman-teman?

Konten Papyrus Creatio yang sering saya jumpai yaitu puisi-puisi tentang cinta monyet khas remaja, curhatan tentang perasaan patah hati, hingga tulisan motivasi yang dibuat oleh siswa untuk saling menyemangati. Semuanya adalah refleksi dari kehidupan siswa SMANSA pada masanya.

Saya tidak tahu, apakah seiring dengan berkembangnya teknologi digital, peran majalah dinding sekolah semakin berkurang atau tetap eksis? Di era Revolusi Industri 4.0 ini, saya pikir siswa lebih banyak menyalurkan ekspresi mereka melalui media sosial dibandingkan dengan menulis di kertas lalu menempelkannya di mading sekolah.

Padahal, meskipun zaman telah berubah, semangat yang ada di balik Papyrus Creatio tetap relevan. Prinsip dasarnya tetap sama: memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan gagasan, berbagi inspirasi, dan mengasah kemampuan berpikir kritis.

Mungkin ada gagasan menarik dari saya agar dilakukan oleh SMANSA di era digital ini, Papyrus Creatio dapat menemukan format barunya dan berevolusi menjadi blog sekolah, akun Instagram, atau bahkan kanal YouTube yang dikelola oleh siswa. Namun, esensinya tetaplah sama: menjadi wadah kreativitas dan ekspresi bagi generasi muda.

Bagi saya, Papyrus Creatio bukan hanya kisah tentang mading yang membeku di masa libur panjang. Ia adalah simbol kebebasan berpikir, kreativitas, dan keberanian untuk bersuara. Dalam lembaran-lembarannya yang kini mungkin telah memudar, tersimpan kenangan, gagasan, dan semangat para siswa yang pernah membenamkan namanya di sana.

Mungkin bagi sebagian orang, mading hanyalah papan biasa yang terpajang di dinding sekolah. Tetapi bagi saya dan mereka yang pernah berkontribusi di dalamnya, Papyrus Creatio adalah bagian dari kisah kecil yang layak dikenang.
Kang Warsa
Kang Warsa Sering menulis hal yang berhubungan dengan budaya, Bahasa, dan kasukabumian.

Posting Komentar untuk "Catatan #13: Papyrus Creatio"