Live Pukul 08.00 - 24.00 WIB.

Catatan #14: Steyr's



Ini adalah catatan saya yang ke-14 tentang romansa di SMANSA, saat saya dan teman-teman mengenyam pendidikan di sana. Sekolah ini memiliki banyak ekstrakurikuler yang memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan minat serta bakat mereka. Beragam kegiatan di luar formalitas lembaga pendidikan disediakan agar siswa dapat menyalurkan potensi mereka dengan lebih terarah.

Salah satu ekstrakurikuler yang cukup menarik perhatian adalah Steyr’s, sebuah komunitas bagi para pecinta alam. Ekskul ini menjadi wadah bagi siswa yang gemar menjelajahi alam, mendaki gunung, dan berpetualang di lingkungan terbuka. Selain sebagai ajang menyalurkan hobi, Steyr’s juga membentuk karakter siswa agar lebih mandiri, tangguh, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Dengan adanya ekskul seperti ini, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang untuk membangun jiwa kepemimpinan serta kebersamaan di antara para siswa.

Saya termasuk siswa yang mencintai alam dan gemar berpetualang di tempat terbuka. Namun, entah karena alasan apa, saya tidak ikut serta dalam ekstrakurikuler Steyr’s, sebuah komunitas yang sejalan dengan minat saya.

Meski demikian, saya tetap memandang kegiatan informal di sekolah sebagai sesuatu yang bernilai, terlepas dari bentuk, jenis, atau kegiatannya. Selama aktivitas tersebut dilakukan dengan tujuan positif, saya percaya bahwa itu adalah cara bagi para siswa untuk meningkatkan kapasitas diri serta memahami kehidupan lebih dalam.

Meskipun bukan bagian dari Steyr’s, saya tetap mengamati dan menghargai perjalanan teman-teman yang menggeluti ekstrakurikuler ini. Mereka mendapatkan pengalaman yang tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membentuk karakter serta ketangguhan mental.

Kadang, saya berpikir apakah keputusan saya untuk tidak bergabung adalah sesuatu yang keliru atau justru bagian dari jalur hidup yang telah ditentukan. Refleksi ini membuat saya menyadari bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam menyerap pelajaran dari lingkungan sekitarnya.

Barangkali, melalui sudut pandang dan perspektif pribadi, saya bisa membangkitkan kembali ingatan kolektif yang pernah dirasakan para alumni. Kisah-kisah selama masa SMA bukan hanya pengalaman individu, tetapi juga tentang bagaimana setiap cerita saling terhubung dan membentuk kisah kecil yang berarti.

Tidak sedikit teman sekelas saya yang menjadi bagian dari ekstrakurikuler Steyr’s. Mereka bukan sekadar teman biasa, melainkan sahabat yang tetap terjalin hingga kini. Kedekatan itu terbentuk bukan hanya karena seringnya kami berinteraksi di dalam kelas, tetapi juga karena nilai-nilai kehidupan yang mereka bawa dari pengalaman bertualang di alam bebas.

Mereka yang aktif di Steyr’s memiliki karakter yang khas—lebih terbuka, apa adanya, dan cenderung ceplas-ceplos dalam berbicara. Kepribadian mereka tidak dibuat-buat, mungkin karena kebiasaan menghadapi alam yang tidak bisa diajak kompromi. Mereka memandang hidup sebagai tantangan yang harus dihadapi, bukan sesuatu yang bisa dihindari atau ditakuti. Mungkin inilah yang membuat mereka lebih tangguh dalam menjalani kehidupan, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.

Setiap orang memiliki jalan cerita masing-masing, namun ada benang merah yang menyatukan pengalaman itu. Setiap cerita memiliki persoalan yang perlu dihadapi dan diselesaikan. Sama seperti dalam sebuah perjalanan di alam liar, tantangan akan selalu datang, baik dalam bentuk cuaca yang tidak menentu, rute yang sulit, atau keterbatasan sumber daya. Namun, semua itu harus diurai, dicermati, dan diatasi agar perjalanan tetap berlanjut.

Para pecinta alam, seperti halnya Soe Hok Gie, memahami filosofi ini dengan baik. Gie, seorang aktivis yang juga seorang pendaki, melihat kehidupan sebagai perjalanan yang penuh tantangan dan nilai-nilai yang harus diperjuangkan. Ia tidak hanya mendaki gunung untuk menaklukkannya secara fisik, tetapi juga sebagai bagian dari perenungan dan pencarian makna hidup.

Namun, di era 90-an, tidak semua anggota pecinta alam di SMA kami mengenal sosok Soe Hok Gie. Beberapa mungkin hanya tertarik pada kegiatan luar ruangan tanpa mengetahui sejarah atau filosofi di baliknya. Meski begitu, mereka tetap mendapatkan pelajaran berharga dari pengalaman mereka sendiri, baik tentang ketahanan fisik maupun mental.

Saya sendiri bukan bagian dari Steyr’s, tetapi saya bisa memahami semangat yang mereka miliki. Melalui interaksi sehari-hari, saya melihat bagaimana mereka menghadapi persoalan dengan lebih tenang dan matang. Mereka terbiasa mengambil keputusan cepat, membaca situasi dengan baik, dan bekerja sama dalam kelompok. Hal-hal yang mungkin tidak diajarkan secara langsung di kelas, tetapi diperoleh dari pengalaman nyata.

Dengan mengamati dan mengisahkan cerita ini, saya percaya bahwa setiap orang memiliki jalannya sendiri dalam memahami dan mengalami hidup. Tidak semua orang harus menjadi pendaki gunung untuk belajar tentang ketahanan dan kebersamaan. Ada banyak cara lain untuk menyerap pelajaran kehidupan, dan setiap orang memiliki medium pembelajaran yang berbeda-beda.

Bagi saya, mendengar cerita teman-teman tentang pengalaman mereka di alam bebas sudah cukup memberikan wawasan baru. Saya belajar bahwa keberanian bukan hanya tentang menantang diri di medan yang sulit, tetapi juga tentang bagaimana menghadapi ketidakpastian dan tetap bertahan di tengah keterbatasan.

Kisah-kisah mereka juga mengajarkan saya bahwa alam memiliki caranya sendiri untuk membentuk karakter seseorang. Alam tidak memberikan kenyamanan seperti rumah atau ruang kelas. Ia memaksa seseorang untuk beradaptasi, mengasah ketahanan fisik dan mental, serta belajar untuk menghargai hal-hal kecil yang sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tak salah, seorang Yuval Noah Harari pernah menulis bahwa homo sapiens atau manusia masih dapat bertahan sampai sekarang sejak awal keberadaannya tidak disebabkan oleh kekuatan fisiknya, melainkan kepandaiannya dalam beradaptasi dengan lingkungan. Jadi, hanya manusia yang pandai beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungan lah yang akan mampu bertahan dalam hidup.

Melalui sudut pandang dan pengalaman pribadi ini, saya bisa membangkitkan kembali ingatan kolektif yang pernah dirasakan oleh para alumni. Setiap individu memiliki cerita uniknya sendiri, tetapi ada satu kesamaan yang menghubungkan semuanya—kenangan akan masa SMA yang penuh dengan pembelajaran, persahabatan, dan pengalaman yang membentuk siapa diri kita saat ini.

Masa SMA adalah suatu fase tentang bagaimana kita tumbuh sebagai manusia. Setiap keputusan yang kita buat, termasuk bergabung atau tidak dalam suatu komunitas, memiliki dampak tersendiri dalam kehidupan kita. Dan pada akhirnya, semua pengalaman itu akan menjadi bagian dari perjalanan panjang yang terus kita lalui, membawa pelajaran yang tidak ternilai harganya.

Menurut penuturan seorang teman, ekstrakurikuler Steyr’s telah dibekukan oleh pihak sekolah. Kemungkinan besar, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kepentingan sekolah secara keseluruhan.

Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa terkadang keputusan semacam ini justru kurang tepat. Idealnya, ketika terjadi pelanggaran, sanksi diberikan kepada individu yang bersangkutan, bukan kepada lembaga secara keseluruhan. Sebab, penting untuk diingat bahwa kenakalan remaja bukanlah hasil dari suatu organisasi atau komunitas, melainkan berasal dari individu-individu di dalamnya.

Dalam sebuah lembaga, mungkin hanya ada satu hingga tiga orang yang melakukan pelanggaran, sedangkan mayoritas anggotanya tetap berada di jalur yang benar. Lebih jauh, seiring waktu, sebagian besar dari mereka pada akhirnya akan menyadari kesalahan, belajar dari pengalaman, dan kembali ke jalan yang lebih baik.

Membekukan sebuah lembaga tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya dapat menghilangkan wadah bagi para siswa untuk berkembang, belajar bertanggung jawab, dan membentuk karakter mereka.

Dalam hal ini, saya tidak sedang membela atau menyalahkan siapapun, hanya mencoba melihat persoalan ini dari sudut pandang dan perspektif yang lebih luas.
Kang Warsa
Kang Warsa Sering menulis hal yang berhubungan dengan budaya, Bahasa, dan kasukabumian.

2 komentar untuk "Catatan #14: Steyr's"

  1. Alhamdulillah , sebuah tulisan yang baik dan bisa mewakili Teman-teman atau Simpatisan Steyr's secara objektif dan proporsional.

    Trims untuk Penulis , tulisannya ini sedikit banyak membawa ingatan pribadi saya yang banyak memiliki memori kolektif bersama Teman-teman Steyr's pada zaman sekolah 3 dekade yang lalu , dan sempat terbersit untuk mencairkan kembali kebekuan Steyr's di Sekolah dengan wajah baru yang lebih cerah untuk cita-cita menciptakan regenerasi yang lebih terarah secara konsep organisasi baik eksistensinya Steyr's sebagai 'ekskul di Sekolah Smansa ataupun eksistensi bentuk terbaru Steyr's , mungkin saja bisa jadi Mitra Sekolah Smansa saat ini dibidang Pencinta Alam .
    Steyr's yang lebih Eksis, Praktis dan Humanis .

    Salam '
    Steyr's Steyr's Steyr's

    BalasHapus
  2. 29 Maret 2025
    Membaca tulisan ini pikiran jadi menerawang ke masa lalu. Merasa menjadi bagian apa yang dituliskan.
    Melewati beberapa masa, disaat legal, saat dibekukan sampai kemudian dibubarkan. Lalu dianggap ilegal. Sampai sekarang berdiri sendiri menjadi suatu perkumpulan anggota HPA Steyrs yang tidak lagi dibawah lembaga pendidikan. Campur aduk perasan ini. Di satu sisi ada perasaan dibenci, disatu sisi lainnya ada yang selalu mensuport seperti tulisan diatas. Tapi inilah realitanya, HPA Steyrs akan selalu ada meski dengan segala keterbatasannya. Rasa cinta yang dalam membuat Steyrs itu tetap hidup. Pembentukan karakter yang unik namun dirasakan sangat besar manfaatnya untuk kehidupan.
    Semoga segala kebaikannya tetap terawat selamanya. Dan tunas-tunas mudanya bisa membawa kembali ke kejayaan HPA Steyrs khususnya, umumnya untuk SMA Negeri 1 Kota Sukabumi.
    Bangga menjadi keluarga besar HPA Steyrs & SMANSA Kota Sukabumi.

    BalasHapus