
Saya sering menulis dalam beberapa artikel bahwa peradaban manusia dibangun di atas kisah dan cerita. Beberapa tahun lalu, pemikiran ini saya temukan kembali dalam buku Sapiens yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, yang menegaskan bahwa narasi dan mitos telah menjadi fondasi utama bagi perkembangan masyarakat manusia.
Bahkan, dalam berbagai kitab suci, eksistensi manusia pertama tak luput dari sebuah kisah yang penuh drama, di mana mereka mengalami kejatuhan dari surga ke bumi sebagai konsekuensi dari suatu peristiwa besar. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, manusia selalu terhubung dengan cerita yang membentuk pemahaman mereka tentang kehidupan.
Orang Yunani Kuno, misalnya, terbiasa mementaskan tragedi dalam pertunjukan drama, karena pada hakikatnya, kehidupan ini memang memiliki elemen tragis yang tak terhindarkan. Sebagai sebuah hiburan, pertunjukan drama mereka menjadi cerminan dari realitas yang dihadapi manusia sepanjang sejarah.
Setiap individu memiliki perjalanan hidupnya sendiri, dipenuhi dengan konflik, pencapaian, kehilangan, dan penemuan makna. Pada akhirnya, tidak peduli seberapa besar seseorang berusaha melawan takdir, semua akan menemui ajalnya—sebuah tragedi yang menjadi kepastian dalam kehidupan.
Walakin, justru dalam kesadaran akan kefanaan inilah manusia menemukan arti dan tujuan. Kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga sebagai sarana refleksi dan pembelajaran. Melalui cerita, manusia merumuskan moralitas, memahami nilai-nilai, dan menciptakan makna dalam kehidupan mereka.
Dengan demikian, sejarah umat manusia bukan hanya sekadar rentetan peristiwa, melainkan juga kumpulan narasi yang membentuk cara berpikir dan bertindak. Kehidupan bukan hanya sekadar perjalanan menuju akhir, tetapi juga tentang bagaimana kisah itu ditulis dan dikenang oleh mereka yang datang kemudian.
Saya pada akhirnya menebak-nebak bahwa dari pengalaman hidup yang dirasakan dan dialami para siswa, ekstrakurikuler Epigonen lahir di SMA Negeri 1 Kota Sukabumi. Merujuk pada arti leksikal epigonen sendiri, yaitu jejak langkah, ekskul ini tampaknya hadir sebagai wadah bagi mereka yang ingin menapaki dunia seni pertunjukan dan teater.
Seni yang ditampilkan pun bisa dikatakan setingkat opera jika dibandingkan dengan standar internasional. Maka, saya pun kembali menduga bahwa karena setiap ekstrakurikuler di sekolah pasti bertujuan untuk mewadahi bakat serta minat siswa, dapat dipastikan mereka yang bergabung di Epigonen adalah individu yang—paling tidak—menggemari drama, pentas, opera, dan seni peran.
Kendati pementasan ini pada akhirnya berujung pada hiburan, bagi saya, sebagai seseorang yang sejak SMP telah mengagumi opera dalam imajinasi, seni bermain peran bukanlah sesuatu yang sederhana. Pementasan yang baik itu membutuhkan kapasitas, kemampuan, dan kualitas yang tinggi dari para aktornya.
Mampu menghibur serta membangkitkan berbagai emosi seperti tawa, kesedihan, haru, kebahagiaan, hingga melankolis adalah pencapaian besar dalam seni peran. Keberhasilan sebuah pertunjukan teater dapat diukur dengan mengamati sejauh mana para penonton dapat merasakan dan larut dalam kisah yang ditampilkan. Hal ini membuktikan bahwa seni peran memiliki daya magis tersendiri, menjembatani dunia nyata dan dunia imajinatif dalam satu panggung yang sama.
Saya terbiasa menyaksikan penampilan Epigonen saat sekolah menyelenggarakan Gelar Seni, sebuah perhelatan tahunan yang dapat dikatakan sebagai ajang termegah untuk ukuran sekolah menengah atas pada masanya.
Di era 90-an, SMANSA memang menjadi sekolah pionir dalam berbagai bidang, mampu meramu kegiatan akademik dan non-akademik dengan seimbang. Keberhasilan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi para siswa, bukan klise, melainkan lahir dari kreativitas yang berkembang dari diri siswa dan didukung penuh oleh pihak sekolah.
Mengenai Gelar Seni sendiri, saya akan menuliskannya secara terpisah, sebab ada banyak hal yang patut diulas lebih dalam. Yang jelas, dalam setiap pertunjukan itu, saya lebih sering hadir sebagai penonton, bukan pemain, pemeran, atau aktor.
Kendati demikian, saya merasa keberadaan penonton memiliki peran yang tak kalah penting. Dengan adanya penonton seperti saya, setidaknya teman-teman yang tampil di atas panggung bisa merasakan bahwa usaha dan dedikasi mereka benar-benar dihargai.
Seni pertunjukan, dalam bentuk apa pun, membutuhkan audiens agar pesan yang ingin disampaikan benar-benar efektif. Oleh karena itu, saya ingin menegaskan satu hal: siapa pun yang tampil, termasuk Epigonen, akan kehilangan maknanya tanpa kehadiran penonton. Itulah sebabnya, dalam seni, apresiasi bukan hanya milik para pelaku, tetapi juga bagian dari mereka yang menyaksikan.
Epigonen pernah hadir dan menghibur hidup saya dengan cara yang unik dan berkesan. Saya menjadi penggemar yang selalu menantikan pertunjukan kabaret dan operet mereka, menyaksikan bagaimana para pemainnya membawakan adegan konyol hingga serius dengan penuh kesungguhan.
Perlu saya jelaskan juga, seni pertunjukan yang mereka sajikan, meskipun menarik, terkadang terasa lebih banyak didominasi oleh corak dan tema urban, yang mungkin mencerminkan ekosistem saat itu yang perlahan-lahan mengarah ke era global village. Saya tidak melihat ini sebagai sesuatu yang negatif, melainkan sebagai cerminan zaman yang berkembang dengan cepat.
Tanpa bermaksud mengecilkan peran dan pengaruh Epigonen, saya memandang pertunjukan mereka sebagai hiburan alternatif yang begitu berarti di penghujung milenium pertama, ketika dunia tengah dilanda resesi dan krisis multidimensi. Dalam situasi seperti itu, hiburan yang lahir dari kreativitas siswa menjadi semacam pelipur lara bagi banyak orang.
Seperti yang saya sebutkan di awal, kecintaan saya terhadap opera dan lagu-lagu klasik menjadi bekal bagi saya untuk tetap menghargai seni pertunjukan, sekecil apa pun bentuknya. Epigonen saya pandang menjadi bagian dari sejarah kecil yang turut membentuk memori kolektif para siswanya.
Kisah mereka masih terus berlanjut hingga kini, layaknya drama kehidupan yang terus dimainkan tanpa henti. Mereka menawarkan pengalaman yang penuh warna—suka, duka, bahagia, sedih, hambar, manis, dan getir—semuanya berpadu dalam satu panggung kehidupan yang nyata.
Seni, pada akhirnya, adalah cerminan dari perjalanan manusia itu sendiri, di mana setiap adegan yang dimainkan mengandung makna yang lebih dalam ketimbang hiburan an sich. Mungkin lima puluh tahun dari sekarang, kisah dan peran yang pernah kita mainkan akan tetap tersimpan dalam ingatan banyak orang.
Kita semua adalah aktor dalam sandiwara besar kehidupan, dan setiap langkah yang kita ambil akan membentuk babak baru dalam sejarah. Saat kita telah tiada, kisah-kisah itu akan tetap hidup, diceritakan kembali oleh mereka yang datang setelah kita. Sebab, seni dan kehidupan selalu memiliki satu kesamaan: keduanya tidak pernah benar-benar berakhir.
Posting Komentar untuk "Catatan #15: Epigonen"