
Judul catatan ini bukan sengaja saya potong dari kata "Bandung" menjadi "Band," melainkan benar-benar "band." Secara leksikal, band berarti rombongan atau kelompok. Dalam konteks yang akan saya ceritakan dalam catatan ini, band merujuk pada sekelompok musisi yang bermain bersama, terutama saat pentas di atas panggung.
Dulu, sekitar abad ke-17, band lebih dikenal untuk membawakan lagu dan musik bercorak militer, digunakan untuk mengiringi pasukan atau upacara resmi. Namun, seiring perkembangan zaman, pada abad ke-19 dan 20, kelompok musisi lebih banyak berkonsentrasi pada berbagai genre musik seperti klasik, pop, rock, blues, dan jazz.
Musik tidak lagi sekadar iringan perang atau simbol kehormatan, melainkan berkembang menjadi ekspresi budaya dan identitas sosial. Bahkan, di berbagai belahan dunia, termasuk di sudut kecil Kota Sukabumi, band menjadi bagian dari dinamika kehidupan anak muda, terutama di SMANSA Kota Sukabumi.
Fenomena ini merambah hingga ke lingkungan terkecil, dari kelompok musik sekolah hingga band jalanan yang mencari eksistensi. Musik band pun menjadi sarana komunikasi dan ekspresi bagi banyak anak muda, membentuk tren yang tidak hanya populer di kalangan remaja, tetapi juga menjadi bagian dari budaya populer yang terus berkembang.
Dengan adanya band, lahirlah ikon-ikon musik yang mampu menggugah perasaan dan membentuk kenangan bagi banyak orang. Oleh karena itu, band bukan sekadar kelompok musik, melainkan juga sebuah fenomena sosial yang mencerminkan semangat zaman di setiap generasi.
Jika kita menelisik lebih jauh, memang sudah seharusnya ada penelitian yang mendokumentasikan secara komprehensif bagaimana para musisi dunia berkontribusi dalam perubahan sosial.
Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1970-an, di tengah ketegangan Perang Dingin yang lebih bersifat ideologis daripada konflik fisik, para musisi dan pemain band menjadi bagian dari ekspresi kegelisahan global yang mendorong lahirnya berbagai gerakan sosial.
Salah satu yang paling mencolok adalah gerakan hippies, sebuah fenomena yang menekankan kebebasan tanpa batas, baik dari norma sosial, aturan tradisional, maupun keterikatan politik yang kaku. Kaum hippies menolak segala bentuk tekanan yang dianggap mengekang, termasuk dalam aspek moral dan budaya, sehingga mereka lebih memilih hidup dalam suasana damai, bebas, dan penuh ekspresi.
Gerakan ini dengan cepat menyebar ke berbagai negara, memengaruhi gaya hidup remaja yang mendambakan kebebasan mutlak dalam berekspresi, berpikir, dan bertindak. Musik menjadi medium utama dalam menyuarakan semangat perubahan tersebut, baik melalui lirik yang berisi kritik sosial maupun melodi yang membangkitkan rasa kebersamaan.
Di Indonesia, pengaruh gerakan semacam ini sebenarnya tidak terlalu kuat, karena kebijakan Orde Baru yang ketat dalam menjaga stabilitas politik dan mencegah segala bentuk perlawanan ideologis terhadap negara. Dengan dalih menjaga ketertiban sosial dan mewaspadai potensi ancaman terhadap keamanan nasional, rezim saat itu mampu meredam pengaruh budaya hippies yang berkembang di negara-negara Barat.
Namun, meskipun gerakan ini berhasil dieliminasi dalam tataran politik, dampaknya tetap terasa dalam perkembangan seni dan budaya di Indonesia, terutama dalam industri musik yang semakin terbuka terhadap pengaruh global.
Industri musik yang berkembang pesat pada akhirnya melahirkan budaya baru yang dikenal sebagai pop-art atau budaya popular. Fenomena ini tidak hanya menciptakan tren musik baru, tetapi juga mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir remaja urban perkotaan.
Mereka mulai mengimitasi para penyanyi dan band yang mereka idolakan, baik dalam cara berpakaian, gaya rambut, hingga cara mereka menampilkan diri di atas panggung. Membentuk sebuah band dan membawakan lagu-lagu musisi dunia menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka, seolah-olah mereka adalah perpanjangan dari ikon musik yang mereka kagumi.
Karena lingkungan urban lebih terbuka terhadap pengaruh global, khususnya musik dari Barat, wawasan mereka pun semakin luas terhadap perubahan dunia. Jika pada masa kecil mereka lebih familiar dengan musik bergenre melayu atau dangdut yang populer di kalangan masyarakat luas, maka menjelang akhir tahun 90-an, budaya populer telah mengarahkan mereka ke jalur baru, yaitu menikmati lagu-lagu alternatif dan pop-rock dari Barat.
Perubahan selera musik ini juga berdampak pada pola pergaulan di sekolah, termasuk di SMANSA, di mana para pelajar perempuan lebih cenderung mengidolakan epigon atau imitasi musisi dunia yang mereka temukan dalam sosok pemain band lokal.
Di sisi lain, para pelajar laki-laki merasa lebih percaya diri saat tampil sebagai pemain band, karena mereka dianggap sebagai representasi musisi dunia dalam lingkungan sekolah. Keberadaan band sekolah bukan hanya sekadar ajang menyalurkan hobi, tetapi juga menjadi simbol status sosial yang membuat mereka lebih dihormati dan dikagumi oleh teman-temannya.
Fenomena tersebut terus berkembang dan menjadi bagian dari dinamika budaya remaja yang tetap bertahan hingga kini, meskipun dalam format dan ekspresi yang berbeda. Bagaimana tidak bangga, ketika anak band SMANSA diteriaki oleh ratusan pelajar perempuan saat mereka tampil di atas panggung?
Momen-momen seperti itu menjadi bukti bahwa musik telah menjadi sarana ekspresi yang dapat mengangkat status sosial seseorang di lingkungan sekolah.
Walakin, di sisi lain, saya juga akan mengisahkan tentang kelompok pelajar yang memilih jalur berbeda—mereka yang bersikap revivalis dan antipati terhadap arus budaya Barat.
Kelompok ini mulai tumbuh seiring dengan munculnya komunitas yang berupaya mengonservasi tradisi keagamaan dan memandang westernisasi sebagai pengaruh yang dapat mengaburkan nilai-nilai lokal serta membius remaja dengan gaya hidup yang dianggap terlalu bebas.
Sebenarnya, jika kita mau jujur, siapa pun ingin melakukan hal terbaik dalam hidupnya. Dan umumnya, semua itu diawali dengan niat yang baik. Hanya saja, perbedaan sudut pandang dan cara pandang terhadap dunia sering kali menciptakan jarak di antara kelompok-kelompok ini.
Tidak ada yang benar-benar salah atau benar sepenuhnya, karena setiap individu atau komunitas memiliki alasan dan perspektifnya masing-masing dalam menentukan pilihan hidupnya. Justru, dari perbedaan inilah SMANSA menjadi sekolah yang dinamis, tempat berbagai pemikiran dan gagasan berkembang tanpa harus saling meniadakan.
Perbedaan itu seharusnya tidak menjadi sumber pertentangan, melainkan menjadi ruang bagi para siswa untuk belajar memahami keberagaman dalam arti yang lebih luas. Dan pada akhirnya, pengalaman-pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi setiap individu dalam menghadapi dunia yang lebih besar di luar lingkungan sekolah.
Posting Komentar untuk "Catatan #16: Anak Band SMANSA"